Carpuccino: Mobil Berbahan Bakar Ampas Kopi

IET, Institution of Engineering and Technology, adalah asosiasi insinyur internasional yang berpusat di Inggris. Minggu ini di web IET mendadak ada berita menarik tentang mobil berbahan bakar kopi. Mobil ini adalah VW Scirocco tahun 1988 yang dibeli di eBay seharga £400, kemudian dimodifikasi sehingga ia tak memerlukan bahan bakar lain, selain ampas kopi. Ampas kopi! Penciptanya adalah Jem Stansfield, seorang presenter dari BBC. Ia merakit pembakar yang memanggang ampas kopi sehingga menghasilkan uap yang mudah terbakar, lalu memproses uap itu menjadi energi.

Mobil ini mampu menempuh perjalanan dari London ke Manchester, dengan bahan bakar ampas kopi dari 11.000 takar espresso.Mobil dibawa dari BBC TV Centre di London, melalui Birmingham, Coventry (tentu saja!), dan Crewe, dan berakhir di Bing Bang Science Fair di Manchester. Perjalanan memakan waktu 17 jam, karena sempat ada hambatan.

Mobil ini tentu masih jauh dari sempurna. Harus berhenti setiap 60-70 mil untuk memastikan penyaring bersih. Juga suhu harus terus menerus diamati, dan perlu didinginkan saat suhu terlalu tinggi. Tapi kecepatan bisa mencapai sekitar 100 km/jam (55 – 70 mph di artikel aslinya). Tak buruk untuk energi dari limbah!

Penelitian memang mengungkapkan bahwa bubuk kopi memiliki kandungan energi yang lebih tinggi dan menghasilkan lebih sedikit abu ketika dibakar, dibandingkan dengan limbah kertas, daun atau kayu. Dengan dana yang terbatas dari BBC – yang berjumlah hanya £ 700 – Stansfield dkk membangun mobil yang dinamai Carpuccino itu di rumahnya di Brighton.

Read More

Jangan-Jangan, Kopi Baik Buat Jantung

Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.

Aku mendadak terantuk ke tulisan lama (17 Juni 2008) di Boing-Boing. Konon waktu itu ada sebuah penelitian justru menunjukkan bahwa peminum kopi justu lebih rendah kemungkinannya meninggal karena penyakit-penyakit seperti serangan jantung, stroke, dan aritmia. Hmmm, apakah ini kausalitas? Dan kalau ya, ke arah mana? Haha.

Edidemiologists dari Universitas Madrid telah menganalisis data dari lebih dari 120.000 pria dan wanita. Menurut penelitian mereka, perempuan yang minum empat atau lima cangkir kopi dalam sehari mengalami kemungkinan 34 persen lebih kecil untuk mati akibat penyakit jantung. Pria yang minum lebih dari lima cangkir sehari itu 44 persen lebih kecil kemungkinannya untuk ditaklukkan penyakit jantung. Namun, ada terlalu banyak variabel dan anasir tak diketahui dalam penelitian ini, sehingga belum dirasa patut untuk dijadikan rekomendasi pengobatan.

heart_coffee

Sang peneliti, Esther Lopez-Garcia, berspekulasi bahwa senyawa anti-inflamasi yang ditemukan dalam kopi mungkin berpengaruh atas manfaat kesehatan ini. Walaupun tingkat kafein yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan menderita serangan jantung dengan meningkatkan tekanan darah, katanya, namun … “hipotesis kami adalah bahwa kafein memiliki efek jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, aspek lain dari kopi adalah lebih kuat.”

Patut diperhatikan bahwa banyak penelitian lain yang justru menunjukkan hasil yang sebaliknya. Pada tahun 2007, Epidemiolog Francesco Sofi dari Universitas Florence menganalisis lebih dari 20 penelitian yang berkaitan dengan kopi dan kesehatan, dan menemukan hanya sedikit kesepakatan. Mungkin ini juga terkait dengan genetika. Pada tahun 2006, sebuah tim peneliti Kanada menemukan bahwa orang dengan mutasi pada gen yang berkait dalam metabolma kafein memiliki tingkat serangan jantung yang lebih tinggi dibandingkan orang tanpa mutasi.

Read More

Kopi Menurunkan Fibrosis Hati?

Peringatan: Artikel ini tidak menggantikan, menambahi, dan tak tak dapat dibandingkan dengan nasehat dan konsultasi dokter.

Sebuah berita dari UPI yang diretweet oleh Pak Nukman menyampaikan kesimpulan dari para peneliti, bahwa pasien penyakit hati (liver) — yang diakibatkan virus hepatitis C kronis — yang mengkonsumsi sekitar 2 cangkir kopi berkafein setiap hari akan mengalami penurunan tingkat fibrosis hati. Peneliti utama Dr Apurva Modi dkk dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menemukan bahwa untuk pasien dengan virus hepatitis C kronis, sumber-sumber kafein lain tidak memiliki efek terapi yang sama.

Fibrosis hati, atau jaringan parut pada hati, adalah tahap kedua dari penyakit hati, yang dicirikan oleh kerusakan fungsi hati akibat akumulasi jaringan ikat.

Dari Januari 2006 hingga November 2008, semua pasien dievaluasi di Cabang Penyakit Hati di Institut Kesehatan Nasional. Mereka diminta mengisi kuesioner untuk menentukan konsumsi kafein. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan: minuman biasa atau diet; kopi biasa atau kopi tanpa kafein; teh hitam, hijau, atau herbal; dan pertanyaan2 lain yang berkait dengan konsumsi kafein. Hasilnya adalah kesimpulan bahwa efek yang menguntungkan ini memerlukan konsumsi kafein di atas ambang batas sekitar 2 cangkir kopi atau setara setiap hari. Kesimpulan lain adalah bahwa konsumsi soda, teh hitam, teh hijau atau bahan lain yang mengandung kafein tidak berhubungan dengan pengurangan fibrosis hati. Penelitian ini lalu diterbitkan dalam jurnal Hepatology.

Read More

Aged Sumatra

Kolonialis Belanda memang mula-mula menanam kopi arabika di Jawa; dan menginternasionalkan nama “Minuman Java” ke publik Amerika dua abad yang lalu. Namun tak lama budidaya kopi arabika diekspansi juga ke Sumatra dan Sulawesi. Dan bencana. Hama yang meluas membuat sebagian besar kebun kopi di Nusantara hancur dan digantikan oleh kopi robusta yang lebih tahan hama, meninggalkan kebun-kebun arabika hanya di puncak-puncak gunung yang tinggi.

Kopi Sumatra memiliki reputasi internasional yang khas. Dibandingkan kopi Indonesia lainnya, kopi Sumatra terasa lebih kuat, lebih keras. Di Indonesia sendiri, nama Kopi Aceh (Gayo), Kopi Medan (Sidikalang), Kopi Lampung, dll, diasosiasikan sebagai kopi keras. Apakah orang Sumatra juga lebih dinamis? Haha, ini diskusi lain :).

Para kolonialis dulu menyimpan biji-biji kopi Sumatra di gudang-gudang mereka, lalu membawanya melalui kapal-kapal dalam bentuk biji mentah. Perjalanan laut membawa kopi Sumatra dalam jumlah besar, bersama dengan berbagai rempah dan hasil bumi lainnya. Aroma kopi berpadu dengan aroma kayu, rempah, uap lautan, dan suhu yang tidak ramah, dalam waktu mencapai tahunan; menghasilkan biji kopi tua (aged coffee) dengan cita rasa khas, dan kualitas yang justru makin baik.

Pecinta Kopi Aroma di Bandung tentu juga sering dipameri, bahwa kopi di sana disimpan dulu hingga 7 tahun baru kemudian dipanggang dan diolah — menghasilkan reputasi Kopi Aroma yang luar biasa di Indonesia.

Akhir tahun lalu, Starbucks mencoba mereproduksi kopi “Aged Sumatra” ini. Kopi-kopi Sumatra (Sumatra, Sumatra Decaf, BAE Sumatra Siborong-Borong) pun sebenarnya memiliki reputasi sebagai kopi “lebih bold daripada yang bold” di antara kopi-kopi Starbucks lainnya. Namun mereka mencoba membuat Kopi Sumatra yang lebih kuat lagi. Kopi-kopi Sumatra ini disimpan hingga 5 tahun dalam gudang terpisah dalam lingkungan alami mereka, baru kemudian diolah.

Hasilnya konon adalah kopi dengan aroma bernuansa pohon cedar yang dinamis, perasaan tebal dan kental, dan rasa yang kuat. Tapi itu adalah menurut beberapa yang sudah merasai. Kita sendiri harus cobai untuk bisa menunjukkan bedanya kopi cita rasa Indonesia ini dibandingkan kopi-kopi terkenal lainnya.

Starbucks sendiri memberikan tag: A bold, exotic coffee from a land of tigers and spices … our boldest cup to date.

Tambahan: Ternyata, berbeda dengan yang digambarkan, kopi ini lembut tak menghentak. Sedap :)

Read More

Arabika Bali

Kunjungan ke Bali minggu lalu, biarpun amat singkat, tapi cukup berkesan. Aku menghabiskan pagi bersarapan di Pantai Sanur yang sepi (hotelnya tepat di sebelah pantai), hanya ditemani sepasang orang Jepang dan sekeluarga orang Inggris. Sorenya, aku menikmati matahari terbenam di Kuta, ditemani Mas Dhani. Balik melalui Centro Kuta, aku terantuk sebuah kantong merah. Tulisannya “Bali Arabica” :). Otomatis aku bertanya ke neng yang menjagai: “Arabika Bali di mana ditanamnya?” Dia cuma menggeleng acuh. Aku ambil kantong merah itu.

Hari ini aku coba Kopi Bali Arabika itu. Lembut mirip Java (arabica). Ini menarik. Di Indonesia tak banyak tempat yang memungkinkan menanam kopi arabika lagi, dan aku pikir aku sudah tahu seluruh tempatnya :). Tapi Bali? Googling sejenak, aku menemukan tulisan Aluns Evan, pakar kopi dari New Zealand yang banyak memahami kopi Indonesia. Di bawah ini ringkasannya.

Kopi Bali umumnya robusta. Perkebunan penjajah Belanja tidak meluas ke Bali, karena Belanda tidak pernah benar2 menguasai Bali hingga awal abad ke-20. Saat itu perkebunan kopi sudah meluas di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Robusta Bali kemungkinan besar datang melalui pedagang Ampenan di Lombok. Kondisi Bali ideal untuk pohon kopi, dan produksi skala kecil dengan cepat menyebar daerah tinggi di Bali.

Jatuhnya harga robusta membuat orang mulai mencoba menanam arabika. Beberapa perkebunan komersial mencobainya juga, tetapi sebagian besar yang membudidayakan arabika adalah kebun-kebun kecil di lereng gunung berapi di tengah pulau Bali. Proses pasca tanam dan sebagianya dilakukan para petani melalui koperasi-koperasi. Posisi yang tidak terlalu tinggi memang membuat kopi arabika ini mirip kopi Java yang lembut dan agak berasa melon (honeydew).

Tulisan asli Aluns Evan: Klik di sini

Read More